Pecinta Alam
Cari Blog Ini
Minggu, 20 November 2011
Minggu, 26 Juni 2011
sistem NAVIGASI
Navigasi adalah penetuan posisi dan arah perjalanan, baik di medan perjalanan atau di peta. Navigasi terdiri atas navigasi darat, sungai, pantai dan laut, namun yang umum digunakan adalah navigasi darat.
Navigasi darat adalah ilmu yang mempelajari cara seseorang menentukan suatu tempat dan memberikan bayangan medan, baik keadaan permukaan serta bentang alam dari bumi dengan bantuan minimal peta dan kompas. Pekerjaan navigasi darat di lapangan secara mendasar adalah titik awal perjalanan (intersection dan resection), tanda medan, arah kompas, menaksir jarak, orientasi medan dan resection, perubahan kondisi medan dan mengetahui ketinggian suatu tempat.
1. Alat-alat navigasi terdiri dari:
- kompas adalah alat untuk menentukan arah mata angin berdasarkan sifat magnetik kutub bumi. Arah mata angin utama yang bisa ditentukan adalah N (north = utara), S (south = selatan), E (east = timur) dan W (west = barat), serta arah mata angin lainnya yaitu NE (north east = timur laut), SE (south east = Tenggara), SW (south west = barat daya) dan NW (north west = barat laut). Jenis kompas yang umum digunakan adalah kompas sylva, kompas orientasi, dan kompas bidik/prisma.
- altimeter adalah alat untuk menentukan ketinggian suatu tempat berdasarkan perbedaan tekanan udara.
- peta adalah gambaran sebagian/seluruh permukaan bumi dalam bentuk dua dimensi dengan perbandiangan skala tertentu. Jenis-jenis peta terdiri dari peta teknis, peta topografi dan peta ikhtisat/geografi/wilayah. Bagian-bagian peta antara lain judul, nomor, koordinat, skala, kontur, tahun pembuatan, legenda, dan deklinasi magnetis.
- GPS (Global Positioning System) adalah sistem radio-navigasi global yang terdiri dari beberapa satelit dan stasiun bumi. Fungsinya adalah menentukan lokasi, navigasi (menentukan satu lokasi menuju lokasi lain), tracking (memonitor pergerakan seseorang/benda), membuat peta di seluruh permukaan bumi, dan menetukan waktu yang tepat di tempat manapun.
2. Menentukan arah tanpa alat navigasi
Selain mengguanakan alat-alat navigasi, kita juga dapat menggunakan arah mata angin dengan tanda-tanda alam dan buatan, yaitu:
- tanda-tanda alam yaitu matahari, bulan dan rasi bintang
- tanda-tanda buatan yaitu masjid, kuburan dan kompas sendiri dari jarum/silet yang bermagnet dan diletakkan di atas permukaan air
- flora-fauna:
tajuk pohon yang lebih lebat biasanya berada di sebelah barat
lumut-lumutan Parmelia sp. dan Politrichum sp. biasanya hidup lebih baik (lebat) pada bagian barat pohon
tumbuhan pandan hutan biasanya cenderung condong ke arah timur
sarang semut/serangga biasanya terletak di sebelah barat pepohonan
3. Mecegah dan menanggulangi keadaan tersesat
Tersesat adalah hilangnya orientasi, tidak dapat mengetahui posisi yang sebenarnya dan arah yang akan dituju. Hal tersebut biasanya karena berjalan pada malam hari, tidak cukup sering menggunakan peta dan kompas dalam perjalanannya, tidak tahu titik awal pemberangkatan di peta dan melakukan potong kompas. Hal-hal yang bisa dilakukan untuk mencegah tersesat antara lain:
- selalu melapor kepada petugas terkait atau orang yang dipercaya mengenai tujuan perjalanan, lamanya dan jumlah anggota yang ikut
- selalu mengingat keadaan sekitar perjalanan berdasarkan kelima indera yang dimiliki
- tetaplah berada pada jalur yang telah ada dengan memberi petunjuk pada tiap persimpangan
- perhatikan obyek yang mencolok seperti mata air, bukit, sungai atau gunung
- pada saat berjalan sekali-kali tengoklah ke arah belakang, ingatlah jalur tersebut jika dilihat dari arah berlawanan
- pelajari dengan benar alat-alat navigasi yang dibawa
- gunakanlah kompas sebelum tersesat
- belajarlah membaca tanda-tanda alam untuk menentukan arah mata angina
- jangan pernah percaya secara penuh kepada orang lain termasuk kepada pemimpin.
Pedoman yang bisa digunakan apabila tersesat adalah S T O P, yaitu:
S = Seating, berhenti dan beristirahat dengan santai, hilangkan kepanikan
T = Thinking,berpikir secara jernih (logis) dalam situasi yang sedang dihadapi
O = Observaton, melakukan pengamatan/observasi medan di lokasi sekitar, kemudian tentukan arah dan tanda-tanda alam yang dapat dimanfaatkan atau yang harus dihindari
P = Planning, buat rencana dan pikirkan konsekuensinya bila anda sudah memutuskan sesuatu yang akan anda lakukan.
Hal-hal yang dapat dilakukan untuk menanggulangi keadaan tersesat adalah:
- membuat tempat berlindung (shelter) dari bahaya atau cuaca buruk
- tetap tenang, tidak panik, berpikir jernih dan mencoba ingat jalur perjalanan
- orientasi dapat dipermudah dengan menuju tempat yang tinggi/memanjat pohon
- gunakan kompas dan peta (alat navigasi) atau indikator alam
- buat petunjuk untuk mempermudah orang lain mencari keberadaan kita, misalnya dengan tulisan, peluit, asap, sinar atau berteriak
- tetap bersama-sama dengan kelompok dalam kondisi apapun
- memanfaatkan situasi dengan menunggu bala bantuan, mencari makanan, mencari air dan lainnya
Navigasi darat adalah ilmu yang mempelajari cara seseorang menentukan suatu tempat dan memberikan bayangan medan, baik keadaan permukaan serta bentang alam dari bumi dengan bantuan minimal peta dan kompas. Pekerjaan navigasi darat di lapangan secara mendasar adalah titik awal perjalanan (intersection dan resection), tanda medan, arah kompas, menaksir jarak, orientasi medan dan resection, perubahan kondisi medan dan mengetahui ketinggian suatu tempat.
1. Alat-alat navigasi terdiri dari:
- kompas adalah alat untuk menentukan arah mata angin berdasarkan sifat magnetik kutub bumi. Arah mata angin utama yang bisa ditentukan adalah N (north = utara), S (south = selatan), E (east = timur) dan W (west = barat), serta arah mata angin lainnya yaitu NE (north east = timur laut), SE (south east = Tenggara), SW (south west = barat daya) dan NW (north west = barat laut). Jenis kompas yang umum digunakan adalah kompas sylva, kompas orientasi, dan kompas bidik/prisma.
- altimeter adalah alat untuk menentukan ketinggian suatu tempat berdasarkan perbedaan tekanan udara.
- peta adalah gambaran sebagian/seluruh permukaan bumi dalam bentuk dua dimensi dengan perbandiangan skala tertentu. Jenis-jenis peta terdiri dari peta teknis, peta topografi dan peta ikhtisat/geografi/wilayah. Bagian-bagian peta antara lain judul, nomor, koordinat, skala, kontur, tahun pembuatan, legenda, dan deklinasi magnetis.
- GPS (Global Positioning System) adalah sistem radio-navigasi global yang terdiri dari beberapa satelit dan stasiun bumi. Fungsinya adalah menentukan lokasi, navigasi (menentukan satu lokasi menuju lokasi lain), tracking (memonitor pergerakan seseorang/benda), membuat peta di seluruh permukaan bumi, dan menetukan waktu yang tepat di tempat manapun.
2. Menentukan arah tanpa alat navigasi
Selain mengguanakan alat-alat navigasi, kita juga dapat menggunakan arah mata angin dengan tanda-tanda alam dan buatan, yaitu:
- tanda-tanda alam yaitu matahari, bulan dan rasi bintang
- tanda-tanda buatan yaitu masjid, kuburan dan kompas sendiri dari jarum/silet yang bermagnet dan diletakkan di atas permukaan air
- flora-fauna:
tajuk pohon yang lebih lebat biasanya berada di sebelah barat
lumut-lumutan Parmelia sp. dan Politrichum sp. biasanya hidup lebih baik (lebat) pada bagian barat pohon
tumbuhan pandan hutan biasanya cenderung condong ke arah timur
sarang semut/serangga biasanya terletak di sebelah barat pepohonan
3. Mecegah dan menanggulangi keadaan tersesat
Tersesat adalah hilangnya orientasi, tidak dapat mengetahui posisi yang sebenarnya dan arah yang akan dituju. Hal tersebut biasanya karena berjalan pada malam hari, tidak cukup sering menggunakan peta dan kompas dalam perjalanannya, tidak tahu titik awal pemberangkatan di peta dan melakukan potong kompas. Hal-hal yang bisa dilakukan untuk mencegah tersesat antara lain:
- selalu melapor kepada petugas terkait atau orang yang dipercaya mengenai tujuan perjalanan, lamanya dan jumlah anggota yang ikut
- selalu mengingat keadaan sekitar perjalanan berdasarkan kelima indera yang dimiliki
- tetaplah berada pada jalur yang telah ada dengan memberi petunjuk pada tiap persimpangan
- perhatikan obyek yang mencolok seperti mata air, bukit, sungai atau gunung
- pada saat berjalan sekali-kali tengoklah ke arah belakang, ingatlah jalur tersebut jika dilihat dari arah berlawanan
- pelajari dengan benar alat-alat navigasi yang dibawa
- gunakanlah kompas sebelum tersesat
- belajarlah membaca tanda-tanda alam untuk menentukan arah mata angina
- jangan pernah percaya secara penuh kepada orang lain termasuk kepada pemimpin.
Pedoman yang bisa digunakan apabila tersesat adalah S T O P, yaitu:
S = Seating, berhenti dan beristirahat dengan santai, hilangkan kepanikan
T = Thinking,berpikir secara jernih (logis) dalam situasi yang sedang dihadapi
O = Observaton, melakukan pengamatan/observasi medan di lokasi sekitar, kemudian tentukan arah dan tanda-tanda alam yang dapat dimanfaatkan atau yang harus dihindari
P = Planning, buat rencana dan pikirkan konsekuensinya bila anda sudah memutuskan sesuatu yang akan anda lakukan.
Hal-hal yang dapat dilakukan untuk menanggulangi keadaan tersesat adalah:
- membuat tempat berlindung (shelter) dari bahaya atau cuaca buruk
- tetap tenang, tidak panik, berpikir jernih dan mencoba ingat jalur perjalanan
- orientasi dapat dipermudah dengan menuju tempat yang tinggi/memanjat pohon
- gunakan kompas dan peta (alat navigasi) atau indikator alam
- buat petunjuk untuk mempermudah orang lain mencari keberadaan kita, misalnya dengan tulisan, peluit, asap, sinar atau berteriak
- tetap bersama-sama dengan kelompok dalam kondisi apapun
- memanfaatkan situasi dengan menunggu bala bantuan, mencari makanan, mencari air dan lainnya
Senin, 30 Mei 2011
climbing
1. Pendahuluan
Olah raga rock climbing semakin berkembang pesat pada tahun-tahun terakhir ini di Indonesia. Kegiatan ini tidak dapat dipungkiri lagi sudah sudah merupakan kegiatan yang begitu diminati oleh kaula muda maupun yang merasa muda ataupun juga yang selalu muda.Pada dasarnya, rock climbing adalah teknik pemanjatan tebing batu yang memanfaatkan cacat batu tebing (celah atau benjolan) yang dapat dijadikan pijakan atau pegangan untuk menambah ketinggian dan merupakan salah satu cara untuk mencapai puncak. Ciri khas rock climbing adalah prosedur dan perlengkapan yang digunakan dalam kegiatan, juga prinsip dan etika pemanjatan.
Rock Cilmbing bukan hanya menjadi komoditi industri olah raga dan petualngan saja. Tetapi aplikasinya juga telah menjadi komoditas industri-industrilainnya seperti wisata petualangan,outbound training,entertaiment,iklan dan film,serta industri-industri lainnya yang membutuhkan jasa ketinggian.Oleh karena itu perlu ilmu rock climbing yang sangat mendasar sebagai acuan yang kuat diri dan dunia rock climbing itu sendiri.
2. Sejarah Rock Climbing
Pada awalnya rock climbing lahir dari kegiatan eksplorasi alam para pendaki gunung dimana ketika akhirnya menghadapi medan yang tidak lazim dan memiliki tingkat kesulitan tinggi,yang tidak mungkin lagi didaki secara biasa (medan vertical dan tebing terjal).Maka dari itu lahirlah teknik rock climbing untuk melewati medan yang tidak lazim tersebut dengan teknik pengamanan diri (safety procedur).Seiring dengan perkembangan zaman rock climbing menjadi salah satu kegiatan petualangan dan olah raga tersendiri.Terdapat informasi tentang sekelompok orang Perancis di bawah pimpinan Anthoine de Ville yang mencoba memanjat tebing Mont Aiguille (2097 mdpl) di kawasan Vercors Massif pada tahun 1492. Tidak jelas benar tujuan mereka, tetapi yang jelas, beberapa dekade kemudian, orang-orang yang naik turun tebing-tebing batu di pegunungan Alpen diketahui adalah para pemburu Chamois (sejenis kambing gunung). Jadi pemanjatan mereka kurang lebih dikarenakan oleh faktor mata pencaharian.
Pada tahun 1854 batu pertama zaman keemasan dunia pendakian di Alpen diletakan oleh Alfred Wills dalam pendakiannya ke puncak Wetterhorn (3708 mdpl). Inilah cikal bakal pendakian gunung sebagai olah raga. Kemudian pada tahun-tahun berikutnya barulah terdengar manusia-manusia yang melakukan pemanjatan tebing-tebing di seluruh belahan bumi.
Lalu pada tahun 1972 untuk pertama kalinya panjat dinding masuk dalam jadwal olimpiade, yaitu didemonstrasikan dalam olimpiade Munich.
Baru pada tahun 1979 olah raga panjat tebing mulai merambah di Indonesia. Dipelopori oleh Harry Suliztiarto yang memanjat tebing Citatah, Padalarang. Inilah patok pertama panjat tebing modern di Indonesia.
3.Teknik Rock Climbing
Dikenal dua jenis teknik pemanjatan rock climbing, yaitu artificial climbing dan free climbing.
a. Artificial Climbing
Artificial climbing adalah teknik peanjatan yang menggunakan peralatan (pengaman) digunakan selain untuk mengamankan pemanjat (menahan pada saat jatuh), juga di gunakan untuk menambah ketinggian. Biasanya teknik ini lebih mengutamakan sisi petualangan yang pemanjatannya menggunakan jalur yang panjang dan proses pemanjatannya memakan waktu yang lama (berhari-hari).
b.Free Climbing
Free climbing adalah teknik pemanjatan yang menggunakan peralatan (pengaman) digunakan hanya untuk mengamankan pemanjat (menahan pada saat jatuh) tidak digunakan untuk menambah ketinggian. Biasanya teknik ini lebih mengutamakan sisi prestasi dan olah raga. Free climbing umumnya menggunakan jalur-jalur yang pendek dan singkat.
4. Taktik Pemanjatan
Dalam rock climbing ada dua taktik pemanjatan,yaitu Himalayan Tactic dan Alpin Tactic
a.Himalayan Tactick
Himalayan Tactic adalah taktik pemanjatan tebing dengan cara menghubungkan antara base camp dengan tim pemanjat melalui tali. Perlengkapan dan logistik bisa dikirim secara estafet dari base camp ke tim pemanjat.
b.Alpin Tactic
Alpin Tactic adalah taktik pemanjatan tebing tanpa berhubungan lagi dengan base camp. Semua kebutuhan tim (peralatan dan logistik) tim pemanjat dibawa terus oleh tim pemanjat.
Seorang pemanjat tebing dituntut untuk berani, teliti dan berkemampuan menganalisa tinggi, yaitu berpikir dan bertindak cepat dan tepat pada saat kritis. Pemanjat tebing wajib memiliki mental baja dan ketahanan fisik yang besar. Selain itu juga harus memiliki kelenturan tubuh, dan penguasaan teknik yang benar. Karena hal-hal itu merupakan dasar dari panjat tebing.
5. Pengaman ( Ancor)
Rock climbing merupakan suatu kegiatan yang beresiko tinggi (high risk),oleh kerenaitu dibutuhkan suatu pengmanan untuk mengurangi atau meminimalisir resiko yang akan timbul. Pada dasarnya pengaman (ancor) dalam rock climbing dikelompokan menjadi 3 kelompok,yaitu :
1. Pengaman tubuh
Pengaman tubuh, yaitu pengaman yang langsung menempel pada tubuh pemanjat, diantaranya :
a. Tali Kernmantel
Kegiatan rock climbing membutuhkan tali yang kuat, ringan, lentur, tidak mudah basah, cepat kering dan mudah dibawa-bawa. Biasanya para penggiat rock climbing menggunakan tali kernmantel dynamic berdiameter 9 atau 11 mm karena memenuhi persyaratan di atas.
b. Harness
Adalah alat pengaman yang mengikat tubuh kita (sabuk pengaman). Ada tiga macam harness yang biasa digunakan, yaitu : Seat Harness (harness yang bertumpu pada pinggul),Chest Harness (harness yang bertumpu pada dada) dan Full Body Harness (harness yang bertumpu pada dada, punggung, pinggul dan paha).
Gambar seat harness
Gambar Chest harness
c. Helm (Hard Hat)
Seorang penggiat rock climbing dianjurkan menggunakan helm dalam melakukan pemanjatan. Hal ini berfungsi untuk melindungi kepala dari benda yang jatuh dari atas atau jika pemanjat terjatuh.
Gambar Helm
d. Simpul (knot)
Pada rock climbing terdapat banyak simpul yang sering digunakan,namun simpul yang langsung berhubungn dengan tubuh,yang di rekomendasikan adalah simpul delapan ganda.
e. Carrabiner
Carrabiner disebut juga krab atau Snaplink adalah cincin kait yang terbuat dari alumunium alloy yang bentuknya beragam dan mempunyai gate yang berfungsi sebagai peniti dan mempunyai kekuatan yang bervariasi tergantung pada beberapa hal antara lain bahan, bentuk, penampang lintang dan pintunya. Ada dua macam carrabiner yaitu Carrabiner Screw Gate (bepengunci) dan Carrabiner Non Gate / Snap Gate (tidak berpengunci).Adapun standart kekuatan carrabiner yang direkomendasikan oleh UIAA (badan panjat tebing dunia) adalah 2000 kg.
2. Pengaman Alam (Natural Ancor)
Pengaman alam yaitu pengaman yang sudah ada pada tebing secara alami dan dapat dimanfaatkan menjadi pengaman. Diantaranya :
a. Lubang Tembus
Lubang tembus biasanya berupa lubang atau rongga pada tebing. Adapun kriteria lubang tembus yang dapat dimanfaatkan sebagai pengaman adalah
· Ukuran diameternya ideal (tidak terlalu kecil dan tidak terlalu besar)
· Solid atau dalam kesatuan tebing dan tidak ada retakan disekitarnya
· Permukaan dan sisi-sisinys tidak tajam sehingga tidak memotong sling
Gambar lubang tembus
b. Batu Tanduk
Batu tanduk biasanya berupa tonjolan yang menyerupai tanduk pada tebing. Adapun kriteria batu tanduk yang dapat dimanfaatkan sebagai pengaman adalah:
· Ukuran diameternya ideal (tidak terlalu kecil dan tidak terlalu besar)
· Solid atau dalam kesatuan tebing dan tidak ada retakan disekitarnya
· Permukaan dan sisi-sisinya tidak tajam sehingga tidak memotong sling
Gambar batu tanduk
c. Pohon dan Akar
Dalam hal ini pohon atau tumbuhan yang menempel / tumbuh pada tebing. Adapun kriteria pohon dan akar yang dapat dimanfaatkan sebagai pengaman adalah
· Ukuran diameternya ideal (tidak terlalu kecil dan tidak terlalu besar)
· Pohon atau tumbuhannya masih hidup
· Solid atau dalam kesatuan tebing
3. Pengaman Buatan (Artificial Ancor)
Pengaman buatan adalah pengaman yang diciptakan oleh manusia guna menunjang keamanan dalam kegiatan rock climbing. Pengaman buatan ini terbagi atas 4 kelompok, yaitu :
a. Piton (Pasak atau Paku Tebing)
Piton adalah sepotong logam yang dibentuk agar berfungsi sebagi pasak celah tebing batu. Piton kebanyakan dibuat dari baja kromalin. Secara umum piton terbagi menjadi dua macam, yaitu piton bilah atau pipih (blade) dan piton siku (angle). Dari dua macam piton ini berkembang menjadi bermacam-macam bentuk piton yang disesuaikan dengan bentuk celah di tebing batu.
Gambar Piton Angle Gambar Piton Blade
b. Chock (Pengaman Sisip)
Chock adalah alat penahan beban dari arah tertentu yang diselipkan ke dalam celah batu. Chock mempunyai dua bentuk, yaitu : asimetris / tidak simetris,contohya segi enam (hexentric) dan simetris,conyohnya baji (stopper).
Gambar Chock ( Stopper )
Gambar Chock (Hexentric )
c. Pengaman Sisip Pegas (Friend)
Friend adalah sebuah alat penjepit yang manggunakan pegas, yang fungsinya tidak jauh berbeda dengan fungsi chock. Ukuran friend bermacam-macam menyesuaikan dengan berbagai ukuran celah batu.
Gambar friend
d. Baud (Bolt) / Pengaman Tetap
Bolt ini ditanamkan kedalam tebing dan diberi pengait (hanger) dengan menggunakan alat bantu bor tangan (hand drill). Pengaman sifatnya permanen.
Gambar handrill dan hanger
6. Simpul-simpul yang sering digunakan dalam pemanjatan
Adapun simpul-simpul yang biasa digunakan di dalam proses pemanjatan adalah sebagai berikut :
1. Simpul Delapan Ganda :
Digunakan untuk simpul ke tubuh dan penambatan.
2. Simpul Belay :
Digunakan untuk mem-belay dan rappeling.
3. Simpul Jerat :
Digunakan untuk menjerat pengaman.
4. Simpul Pita :
Digunakan untuk menyambung tali yang pipih (webbing).
5. Simpul Pangkal :
Digunakan di dalam penambatan.
6. Simpul Fisherman :
Digunakan untuk menyambung dua tali yang berbeda.
7. Simpul Kambing/Bowline :
Digunakan untuk mengikat barang yang akan di angkat ke atas.
7. Alat Pendukung
Ascender dan Descender
Ascender adalah alat penjepit tali yang berfungsi untuk menahan beban. Prinsip kerjanya adalah dapat menjepit tali kjika terbebani dan aka mengendur jika tidak terbebani.
Descender adalah alat yang berfungsi untuk membantu memberi gesekan pada waktu pemanjat menuruni tebing dengan tali. Dengan begitu, kecepatan turun dapat dikontrol dengan mudah. Biasanya digunakan untuk rappeling atau belaying.
Sling
Sling berguna untuk membuat pengaman maupun memperpanjang runner. Sling dapat dibedakan menjadi 2, yaitu Rope Sling yang terbuat dari tali dan Tape Sling yang terbuat dari pita nilon (webbing). Diameter rope sling berkisar antara 7 sampai 9 mm. Sedangkan tape sling biasanya berukuran 1 inci. Kedua macam sling ini mempunyai kegunaan masing-masing. Pada pinggiran batu yang tajam, webbing dapat tersayat, sehingga rope sling lebih dianjurkan. Sedangkan pada celah sempit, tape sling lebih berguna daripada rope sling.
Gambar sling
Sepatu Panjat
Sepatu memanjat tebing mempunyai ciri-ciri khusus. Ringan dan bagian tapaknya terbuat dari karet yang cukup keras dan kaku yang berfungsi sebagai tumpuan gesekan yang maksimal terhadap pijakan permukaan tebing yang tipis.
Gambar Sepatu Panjat
Hammer
Palu yang digunakan dalam pemanjatan tebing batu sedikit berbeda dengan palu yang digunakan untuk keperluan sehari-hari. Kepala palu harus labih berat dari ekor palu yang berbentuk runcing, yang dapat digunakan untuk mencongkel atau mengungkit alat-alat penahan beban (pengaman buatan).
Gambar Hammer
Webbing
Webbing adalah pita yang terbuat dari bahan nilon yang mempunyai fungsi yang hampir sama dengan tali. Alat ini biasa digunakan untuk sling, tangga gantung dan sebagainya.
Etrier atau Stirrup
Etrier atau Stirrup (tangga gantung) adalah alat yang biasa digunakan dalam pemanjatan artificial. Etrier biasanya terbuat dari webbing atau dari logam aluminium. Dengan alat ini, proses pemanjatan akan emnjadi lebih mudah. Karena alat ini dapat dijadikan pijakan untuk menambah ketinggian dimana sudah tidak ada lagi cacat tebing yang dapat dipijak.
Gambar Etrier atau stirrup
Chalk Bag
Chalk bag adalah kantong kapur yang berisi magnesium carbonat, ukurannya kira-kira sebesar telapak tangan.
Gambar chalk bag
Prusik
Prusik adalah tali karnmantel yang berukuran antara 4 – 6 mm. Biasanya berfungsi sebagai pengganti ascender dan sling.
Gambar prusik
Choker
Choker adalah alat bantu untuk membuka atau melepaskan pengaman buatan. Choker terbuat dari bahan plat ± 3 mm dengan panjang ± 30 cm. Salah satu ujungnya berbentuk seperti ekor kucing yang berfungsi untuk mencongkel atau mengungkit alat alat penahan beben (pengaman buatan).
8. Klasifikasi Pengaman
Pada prekteknya terdapat juga klasifikasi pengaman menurut sifat dan fungsinya, yaitu :
a) pengaman emas :
berarti pengaman bersifat baik sekali. Sangat baik digunakan sebagai penambatan.
b) pengaman perak :
berarti pengaman bersifat baik. Digunakan untuk pengaman selama pemanjatan.
c) pengaman perunggu :
Sifatnya kurang baik. Biasanya digunakan untuk menambah ketinggian.
d) pengaman pengunci
Sifatnya baik sekali (emas). Digunakan sebagai pengaman urutan pertama yang befungsi sebagai tahanan terakhir pada saat jatuh.
9. Penambatan
Penambatan adalah proses tahapan pemanjatan untuk melanjutkan pitch berikutnya (1 etape pemanjatan) atau berganti leader. Syarat penambatan :
a) Memiliki 2 atau lebih pengaman yang bernilai emas.
b) Menggunakan carrabiner screw untuk menambat.
c) Simpul yang dipakai adalah simpul jerat/tambat (untuk pengaman ke tubuh) dan di back up oleh simpul delapan ganda.
10. Pengenalan Prosedur Pemanjatan
Dalam suatu kegiatan alam bebas, menyusun suatu perencanaan merupakan suatu hal yang penting. Bidang rock climbing merupakan kegiatan yang sangat memerlukan tata cara dan prosedur yang tepat agar proses pemanjatan menjadi lancar dan aman.
Prosedur pemanjatan yakni :
Orientasi Jalur
Orientasi jalur merupakan permulaan yang penting dari sebuah pemanjatan. Pemilihan jalur dapat dilakukan melalui data, literatur, informasi dari orang lain atau pengamatan langsung.
Di dalam orientasi jalur, ada hal-hal yang perlu diperhatikan, yaitu :
a) Memperkirakan tinggi tebing, menentukan jenis batuan, menentukan berapa pitch yang akan dilakukan.
b) Menentukan titik awal pemanjatan.
c) Menentukan jenis alat-alat yang akan digunakan.
d) Memperkirakan penempatan anchor (tambatan) untuk istirahat, pergantian leader untuk hanging belay juga hanging bivoack.
2. Pembagian Personil / Manajemen Tim
Pembagian personil dilakukan berdasarkan :
a) Jumlah personil keseluruhan.
b) Kemempuan personil.
c) Jalur yang akan digunakan.
d) Sistem pemanjatan.
e) Ketersediaan alat.
3. Persiapan Peralatan
Peralatan yang akan dipakai disusun dengan rapi dan sistematis. Ini membantu pemanjat dalam menggunakan alat. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi alat yaitu :
a) Jenis batuan.
b) Cacat batuan.
c) Kemampuan leader.
d) Pengaman yang tersedia.
4. Persiapan Pemanjatan
Setelah semua peralatan telah siap, maka pemanjatan dapat dimulai. Hal yang penting dalam pemanjatan beregu adalah komunikasi, apalagi antara leader dan belayer. Tetapi perlu diingat untuk menjaga energi, jangan sampai energi habis karena kita berteriak-teriak. Jadi sebaiknya menggunakan alat komunikasi, seperti handy talky.
5. Memulai Pemanjatan
Leader melakukan pemanjatan hingga pitch 1 yang telah direncanakan sebelumnya. Lalu memasang fixed rope (tali tambat) dari tali baru yang dibawanya yang dapat digunakan sebagai transport orang kedua.
6. Cleaning
Setelah leader menyelesaikan pitch 1, orang kedua bersiap untuk menyusul ke pitch 1 dengan menggunakan fixed rope. Sambil memanjat/jumaring orang kedua (cleaner) ini membersihkan runner-runner yang dipasang oleh leader, agar alat-alatnya dapat digunakan untuk pemanjatan selanjutnya (ke pitch 2).
Tugas cleaner :
a) Membersihkan jalur dan menyapu runner.
b) Mencatat pengaman yang akan digunakan selanjutnya.
c) Sebagai leader untuk pitch selanjutnya.
d) Membawa tali untuk pemanjatan.
7. Pemanjatan untuk pitch 2 dan selanjutnya.
Setelah cleaner sampai pada pitch 1, lalu melakukan persiapan untuk melakukan pemanjatan ke pitch 2. Yang menjadi leader adalah orang yang menjadi cleaner pada saat pemanjatan ke pitch 1. Pada saat pemanjatan ke pitch 2, orang ketiga dan selanjutnya yang masih ada di bawah, melakukan pemanjatan/jumaring. Begitu seterusnya hingga akhir pemanjatan.
8. Turun Tebing
Setelah semua pemanjat telah mencapai target, maka yang harus dilakukan adalah rappeling (turun tebing). Untuk melakukan rappeling perlu membuat anchor untuk penambat tali. Rappeling dapat dilakukan dengan menggunakan tali tunggal atau tali ganda (double). Personil yang turun pertama kali harus membawa tali dan memasangnya pada pitch berikutnya. Persoinil terakhir sebaiknya memakai double rope rappeling dan tali dikalungkan pada anchor, sehingga dapat ditarik sesudah sampai di pitch bawah. Begitu selanjutnya untuk setiap pitch.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam rappeling :
a) Ujung tali harus disimpul.
b) Waspada terhadap rontokan batuan.
9. Pendataan Alat Setelah Pemanjatan
Di dasar tebing, setelah semua pemanjat turun, dilakukan pendataan alat-alat yang telah dipakai. Alat-alat apa saja yang sengaja ditinggal di atas dan pengecekan alat.
10. Pembuatan Topo
Topo adalah gambar atau sket jalur yang berhasil di panjat. Sket ini dilengkapi dengan data-data sebagai berikut :
a) Nama jalur
b) Lokasi
c) Jenis batuan tebing
d) Tinggi tebing
e) Sistem pemanjatan
f) Teknik pemanjatan
g) Waktu pemanjatan
h) Tingkat kesulitan (grade)
i) Data peralatan yang digunakan
j) Daftar pemanjat
Selasa, 19 April 2011
teknik bertahan hidup di alam bebas
Guna bertahan hidup di dalam situasi sulit, kita harus berusaha untuk memenuhi kebutuhan dasar kita dari apa saja yang tersedia di sekitar kita. Maka dari itu perlu penguasaan teknik-teknik survival, diantaranya teknik membuat api, teknik membuat shelter, teknik membuat trap, teknik mendapatkan air, teknik membuat jejak dan isyarat.
1. Api
Api tidak hanya berfungsi untuk memasak bahan makanan saja, tetapi juga berfungsi untuk menjaga suhu tubuh kita. Selain itu dengan perapian kita dapat terhindar dari berbagai binatang. Binatang buas yang takut terhadap api antara lain : serigala, harimau, dan sebagainya.
Untuk menghangatkan tubuh, panas api akan lebih efektif menghangatkan tubuh jika kita membuat beberapa api kecil daripada membuat satu api besar.
Perapian yang baik haruslah diatur sedemikian rupa sehingga kayu dapat terbakar secara merata. Dengan penyusunan perapian yang baik dapat memberikan berbagai fungsi. Selain untuk menghangatkan tubuh, memasak, juga dapat dijadikan alat penghalau binatang.
Untuk mendapatkan perapian yang baik, diperlukan kayu/bahan yang kering dan mudah terbakar. Perapian yang baik biasanya dimulai dari ranting-ranting kecil untuk dijadikan fire starter. Untuk selanjutnya dapat dilanjutkan dengan kayu-kayu yang lebih besar.
Untuk mendapatkan api selain menggunakan alat khusus (korek api/pematik), juga dapat dilakukan dengan cara tradisional. Seperti menggesek-gesekan bahan kering dengan bahan kering lainnya. Letak keberhasilan pembuatan api tradisional yaitu dalam bentuk batang dan jenis bahan/kayu serta cara yang dilakukannya.
Teknik Membuat Api
Bunga api adalah tahap awal dalam pembuatan api. Selanjutnya ialah mengusahakan untuk menangkap bunga api dengan kawul atau ranting dan daun kering.
1. Mematik
Cara ini dilakukan dengan membenturkan atau menggesekan dua benda keras. Dapat dilakukan dengan dua benda yang sejenis ataupun dengan dua benda yang berbeda jenis. Cara yang dapat digunakan bermacam-macam, yang penting adalah dapat menimbulkan bunga api.
Salah satu caranya adalah dengan memaku kayu bidang datar hingga yang tampak bagian kepalanya saja. Kemudian gesekan/benturkan batu atau logam ke arah kepala paku tersebut. Gesekan dengan sedikit ditekan dan agak cepat hingga menimbulkan bunga api. Kemudian bunga api tersebut dapat ditangkap dengan sabut kering dan sebagainya.
2. Gergaji Api (Fire Saw)
Cara ini membutuhkan tenaga yang cukup besar dan kuat. Cara ini memanfaatkan efek panas akibat gesekan kayu. Metodanya seperti menggergaji kayu dengan kayu lainnya, sehingga menimbulkan bunga api. Biasanya kayu yang digunakan berbeda antara kayu satu dengan kayu yang lainya. Kayu yang dipilih adalah kayu yang empuk sehingga tidak terlalu sulit dalam melakukan penggergajian.
3. Fire Thong
Fire Thong adalah cara mendapatkan api dari sehelai kulit kayu atau rotan kering yang ditarik menyilang di atas sepotong kayu atau rotan kering. Kulit rotan tersebut dililitkan pada sebatang pohon yang empuk, lalu ditarik oleh tangan kanan dan kiri secara bergantian. Pada bagian bawahnya diberi sabut, kawul, atau dedaunan kering yang siap menangkap bunga api.
2 Shelter
Shelter ditujukan untuk melindungi survivor dari pengaruh alam, seperti panas, hujan, angin, dan dingin. Perlindungan ini dapat dibangun dari bahan-bahan yang sengaja dibawa ataupun dari bahan-bahan yang tersedia di alam (kayu, dedaunan, dll).
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pembangunan shelter adalah :
- Jangan membangun shelter di tempat yang riskan tergenang air (banjir), seperti di tepi sungai. Walaupun tempat itu terlihat bersih dan kering, akan sangat berbahaya apabila datang hujan.
- Usahakan dalam pembuatan shelter tidak dibawah pohon yang berdahan rapuh atau di bawah pohon kelapa. Karena dapat membahayakan jika dahan rapuh atau buah kelapa itu jatuh menimpa shelter kita.
- Tidak di tempat yang dicurigai sebagai sarang binatang buas atau sarang nyamuk/serangga. Karena dapat mengganggu kenyamanan beristirahat.
- Bahan pembuat shelter harus kuat dan pengerjaannyapun sebaik-baiknya, karena akan mempengaruhi dalam kenyamanan kita.
Contoh barang bawaan yang dapat dijadikan shelter adalah ponco ataupun plastik berukuran kurang lebih 2×2 meter. Karena shelter yang dibangun dari ponco atau plastik kurang sempurna, maka dari itu selain memperhatkan empat hal diatas, perlu memperhatikan arah angin bertiup. Sehingga arah angin bertiup dapat dihalau oleh shelter yang kita bangun. Contoh bentuk shelter dapat dilihat melalui gambar.
Gambar bivak alam
Bentuk lain dari alam yang bisa dimanfaatkan sebagai shelter yaitu gua, lekukan tebing/batu yang cukup dalam, lubang-lubang dalam tanah, dan sebaginya.
Apabila memilih gua harap diyakini bahwa :
1. Gua tersebut bukan merupakan sarang binatang.
2. Gua tersebut tidak mengeluarkan gas beracun. Cara klasik mengetahuinya yaitu dengan menggunakan obor. Apabila obor dapat terus menyala di dalam gua, berarti gua tersebut aman dari gas beracun.
3. Gua tersebut terbebas dari bahaya longsor.
3 Trap
Salah satu keterampilan yang mendukung dalam melakukan kegiatan survival adalah keahlian membuat trap. Trap ini digunakan survivor untuk menangkap binatang untuk diambil dagingnya untuk dimakan. Membuat trap kadangkala memerlukan bahan lainya, seperti : karet, kawat, tali, dan sebagainya. Maka dari itu barang-barang tersebut tersedia di dalam survival kit.
Dalam pembuatan trap, hendaknya diketahui hewan apa saja yang biasa lewat atau tinggal di daerah itu. Dengan mengetahui hewan apa yang akan ditangkap, kita dapat menyesuaikan jenis trap apa yang akan dibuat. Perlu diingat bahwa trap akan sia-sia jika binatang yang telah terperangkap dapat meloloskan diri. Maka dari itu pembuatan trap biasanya dalam bentuk yang sederhana tetapi mempunyai kekuatan yang baik.
Trap sangat banyak jenis dan macamnya, karena dalam pembuatan trap tergnatung kepada kreasi survivor. Kita akan membahas lima jenis trap yang sering digunakan.
1. Trap Menggantung (Hanging Snare)
Perangkap model menggantung ini biasanya memanfaatkan :
a) Kelenturan dahan pohon.
b) Patok yang diberi lekukan dan dihubungkan dengan tali.
c) Tali laso yang lalu menghubungkan dahan pohon yang lentur dengan patok, sehingga apabila laso goyang maka tali pada patok akan lepas dan dahan pohon akan menarik, hingga akhirnya tali akan menjerat.
Perangkap ini ditujukan untuk menangkap binatang yang cukup besar seperti : kelinci, ayam, bebek, dan lain lain.
2. Trap Tali Sederhana
Untuk binatang yang berukuran kecil, seperti burung dapat digunakan perangkap tali sederhana yang diletakan di atas tanah ataupun digantung. Tali laso yang telah diberi umpan diikatkan pada dahan pohon atau batu yang berat. Sehingga apabila hewan telah terjerat, tidak bisa pergi kemana-mana lagi.
3. Trap Lubang Penjerat
Perangkap ini adalah modifikasi dari perangkap tali dan perangkap lubang. Perangkap ini terdiri dari :
a) Tali laso yang diikatkan pada dahan pohon yang kuat dan diletakan mendatar.
b) Lubang perangkap yang digali, kedalamannya disesuaikan dengan hewan yang akan ditangkap. Mulut lubang disamarkan dengan dedaunan dan laso diletakan di atas dedaunan tersebut.
c) Diberi umpan di atas dedaunan, ditengah laso.
4. Trap Menimpa
Perangkap lain yang ditujukan untuk menangkap binatang kecil lainya adalah perangkap menimpa. Perangkap ini memanfaatkan berat kayu untuk menindih. Model ini dikenal dengan nama Deadfall Snare. Yang diperlukan dalam pembuatan perangkap ini adalah :
a) Batang pohon besar ditumpukan pada kayu pohon lainya yang saling menopang.
b) Kayu pohon penopang yang saling berhubungan dengan batang pohon besar dan jika salah satu tersenggol, maka yang lain akan jatuh dan menimpa.
c) Umpan yang diletakan dekat dengan kayu pohon penopang dan apabila tergerak, maka kayu pohon penopang akan bergeser sehingga batang pohon besar akan jatuh menimpa.
5. Kombinasi Trap Lubang dengan Trap Menimpa
Perangkap ini merupakan kombinasi bentuk lubang perangkap dan perangkap menimpa. Perangkap ini terdiri dari :
a) Batang pohon besar untuk menimpa mangsa.
b) Kayu pohon yang saling menopang.
c) Umpan.
d) Lubang perangkap lengkap dengan samarannya.
Cara kerjanya hampir sama dengan trap menimpa, tetapi ketika mangsa tertimpa batang, ia akan langsung masuk ke lubang.
4.4 Air
Air merupakan kebutuhan pokok manusia. Kebutuhan manusia akan air lebih besar daripada kebutuhan manusia akan makanan. Manusia bisa bertahan hidup kurang lebih sepuluh hari tanpa makanan. Tetapi tanpa air menusia akan sulit bertahan lebih dari tiga hari. Oleh karena itu kebutuhan akan air mutlak didapatkan oleh survivor. Untuk mendapatkan air, survivor harus pandai dalam menganalisis medan disekitarnya, mencari apa saja yang dapat dimanfaatkan untuk mendapatkan air. Manusia memerlukan air setidaknya seperempat liter sehari untuk minum.
Di daerah hutan tropis, sebenarnya tidak sulit untuk mendapatkan air. Kita bisa mendapatkan air dari sungai, mata air dan selokan kecil, genangan air di cekungan batu, dan sebagainya. Tetapi pertanyaannya apakah air tersebut dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan metabolisme manusia? Maka dari itu perlu pengetahuan dalam mencari air untuk diminum dan dimasak.
Berdasarkan sumbernya, air dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu air langsung dan air tak langsung.
Air langsung berarti air bersih yang dianggap aman untuk diminum saat itu juga. Contoh air yang langsung dapat diminum adalah : air sungai, mata air, air hujan yang telah ditampung, dan lain lain. Air langsung mempunyai ciri fisik yang bersih, jernih, tidak berwarna, dan tidak berbau. Kecuali air yang ditemukan melalui buah atau tumbuh-tumbuhan, seperti buah kelapa.Tetapi air langsung belum tentu juga dapat diminum sekaligus. Karena dikhawatirkan bahwa air itu telah tercemar pupuk kebun penduduk, pestisida, atau bahan kimia lainya. Maka dari itu sebaiknya diteliti dengan seksama terlebih dahulu sebelum meminumnya.
Air tak langsung adalah air yang digolongkan menjadi air yang masih memerlukan proses untuk diminum. Sumbernya terdapat di selokan kecil, genangan air, atau dari tumbuh-tubuhan seperti kantung semar.
Mengetahui sumber air sangat penting, karena kita dapat memprioritaskan air mana yang akan kita simpan di tempat minum untuk diminum dan air mana yang akan kita simpan di tempat air lain untuk mencuci bahan makanan kita.
Misalnya, seorang survivor akan lebih merasa percaya diri apabila meminum air dari mata air daripada meminum air yang ditemukan dari genangan air di bebatuan. Karena dari fisiknya memang air dari mata air memang lebih jernih. Sedangkan air dari genangan belum tentu jernih dan biasanya terdapat sarang serangga yang bertelur di genangan air itu. Maka lebih baik air itu dipakai untuk keperluan lain selain diminum.
Yang tak kalah penting adalah perasaan yakin akan kebersihan air yang akan kita minum. Karena perasaan tidak yakin akan kebersihan air yang kita minum akan memberikan sugesti dan menjadikan gangguan kepada diri kita sendiri.
1. Air langsung
Berikut adalah sumber air yang dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan survival :
a) Hujan
Apabila turun hujan ketika sedang ber-survival, maka sebaiknya kesempatan ini dipergunakan sebaik-baiknya untuk menampung air sebanyak-banyaknya. Untuk menampung air hujan, kita dapat memanfaatkan daun yang lebar, bambu, dan sebagainya.
b) Tanaman
Tanaman rambat dan rotan banyak dijumpai di pegunungan dan hutan rimba. Pilihlah tanaman rambat (akar gantung) yang masih segar. Lalu potonglah bagian bawah dari tanaman itu agar air yang terkandung di bagian atas tanaman dapat menetes ke bagian bawah, lalu air yang menetes ditampung di penampungan. Setelah itu baru potong bagian atasnya dengan jarak saru sampai satu setengah meter dari bagian bawahnya. Tanaman rambat ini dapat ditemukan di pohon-pohon besar. Dan satu pohon dapat diambil beberapa tanaman rambat. Sebenarnya air yang didapat dari tanaman rambat ini sedikit, tetapi cukup untuk membasahi tenggorokan.
c) Air sungai dan mata air
Kebanyakan air sungai yang d hutan dapat langsung diminum. Tetapi harap diteliti sebelumnya, apakah di sekitar sungai itu terdapat pembuangan kotoran atau limbah.
d) Air kelapa
Air kelapa merupakan penghapus dahaga yang baik. Air kelapa yang baik adalah kelapa yang masih muda. Biasanya satu buah kelapa berisi air sebanyak hampir satu liter. Usahakan apabila kita meminum air kelapa, harus yang masih baru atau kelapa hasil memetik sendiri. Karena apabila kelapa yang sudah terjatuh biasanya telah tua dan airnya tidak enak dan terkadang bau. Bahkan kemungkinan kelapa yang sudah jatuh adalah bekas makanan bajing, maka disangsikan kebersihannya.
e) Kondensi Tanah
Cara lain dalam medapatkan air adalah dengan memanfaatkan kondensi tanah. Hal ini memanfaatkan uap air tanah dan kemudian ditampung di suatu tempat. Caranya sebagai berikut :
1. Galilah tanah dengan kedalaman kira-kira setengah meter.
2. Gelarlah plastik untuk menutupi lubang tersebut. Dan ujung-ujungnya ditahan, agar plastik tersebut menutup lubang dengan rapat.
3. Beri pemberat di tengah plastik agar plastik agak menjorok ke dalam.
4. Sebelumnya letakan wadah penampung air di tengah –tengah lubang.
5. Biarkan seharian.
2. Air tidak langsung
Berikut adalah sumber air yang dapat kita manfaatkan tetapi harus kita dibersihkan terlebih dahulu.
a) Lubang air
Air yang berada di tempat ini biasanya bercampur dengan lumpur, potongan ranting atau dedaunan. Untuk memanfaatkannya kita perlu membersihkan dedaunan di permukaan air dengan cara dipungut langsung. Setelah itu diendapkan beberapa saat agar air tidak bercampur dengan lumpur. Setelah itu kita dapat melakukan proses penyaringan. Proses ini akan diterangkan lebih lanjut dimuka.
b) Air yang menggenang
Air yang menggenang dapat dimanfaatkan setelah dilakukan proses penyaringan. Air ini biasanya terdapat di saluran selokan yang telah mengering, celah antara batu karang, cekungan tanah/batu, atau tunggul-tunggul pohon yang telah mati.
Berikut adalah cara menyaring air :
1. Dengan kaos berlapis. Lebih baik apabila kaos itu berwarna putih, sehingga apabila kotor dapat terlihat dan dapat dibersihkan terlebih dahulu.
2. Dengan cara melewatkan air ke dalam rongga bambu yang telah dipotong di kedua ujungnya. Di dasar bambu diberi penyaring seperti kerikil, ijuk, rumput kering atau daun kering.
Air keruh juga dapat dimanfaatkan setelah dilakukan proses pengendapan selama dua puluh empat jam di tempat bersih. Apabila air yang telah diendapkan masih telihat atau terasa kotor, maka dapat dilakukan proses penyaringan beberapa kali. Tetapi cara yang paling aman untuk mendapatkan air bersih adalah setelah dibersihkan lalu air dimasak sampai masak.
Cara lain untuk mendapatkan air bersih adalah dengan membersihkan air yang keruh dengan mencampurkan zat-zat pembersih air yang dapat kita dapatkan di toko kimia. Cara itu sebagai berikut :
1. Campurkan tablet Halazone dengan air dan tunggu sepuluh sampai lima belas menit.
2. Campurkan dua hingga tiga tetes Iodine dengan seperempat liter air. Air dapat dimanfaatkan setelah tiga puluh menit.
3. Campurkan beberapa butir garam abu permanganate dengan air secukupnya. Reaksi sterilisasi dapat dilihat kira-kira dalam tiga puluh menit.
4. Campurkan bubuk pembersih (AGS) yang dijual di pasaran dengan air secukupnya.
4.5 Jejak dan Isyarat
Salah satu kegiatan yang dapat dilakukan oleh seorang survivor untuk terlepas dari keadaan survival adalah membuat jejak dan isyarat. Dengan harapan bahwa ada tim SAR yang akan menerima dan mengerti pesan kita. Dan akhirnya kita dapat terselamatkan.
Membuat jejak dan isyarat memerlukan tekhnik tertentu agar tim SAR dapat mengerti maksud dari jejak dan isyarat yang kita buat. Bahkan ada beberapa sandi internasional untuk memberikan pesan dengan menggunakan media tertentu atau bahasa tubuh.
Tanda yang biasa digunakan sebagai kode isyarat pertolongan adalah dari barang-barang yang berwarna mencolok dari daerah di sekitarnya, agar mudah terlihat. Atau dapat digantungkan di pucuk pohon tertinggi agar SAR udara dapat mengidentifikasinya.
Cara lainya adalah dengan menjemur pakaian yang berwarna mencolok di batu-batuan sungai. Cara ini dinilai efektif karena biasanya tim SAR akan menyisir daerah sungai untuk mencari korban.
Maka dari itu dalam melakukan perjalanan ke hutan, sebaiknya kita membawa barang atau pakaian yang warnanya mencolok seperti warna kuning dan lain-lain.
Langganan:
Komentar (Atom)